Jumat, 18 Mei 2012

Kemitraan Semu TNI/Polri dengan Jurnalis

Opini - Hari ini Pkl. 00:14 WIB
 Oleh : Puji Santoso. Hampir setiap surat kabar di Medan edisi Sabtu (14/4) lalu memberitakan setidaknya ada empat jurnalis televisi luka dan memar di wajah mereka akibat ditolak dan dipukul sejumlah anggota TNI dari satuan Artileri Pertahanan Udara Sedang (Arhanudse) Kodam I Bukit Barisan. Keempat jurnalis TV itu adalah: Tuti Alawiyah boru Lubis (SCTV), Yudhistira (Berita Satu), Ayat Sudrajat Hasibuan (Trans TV), dan Bahana Situmorang (tvOne).Selain berita-berita surat kabar lokal dan nasional, tentu saja peristiwa ini juga mendapat porsi pemberitaan di seluruh televisi swasta nasional. Peristiwa ini terjadi pada saat para jurnalis televisi itu bersama para jurnalis lainnya sedang meliput proses pembubaran paksa para demonstran oleh sejumlah prajurit Kodam I BB. Para demonstran itu dibubarkan paksa karena dianggap mengganggu kunjungan kerja Wakil Presiden Boediono di Medan.

Di situs jejaring sosial seperti Facebook, banyak kalangan menilai bahwa konflik jurnalis dengan anggota TNI itu gara-gara kunjungan Wapres Boediono ke Medan. Bila Boediono tidak ke Medan konflik itu sudah pasti tidak terjadi. Seperti halnya tidak akan terjadi kemacetan lalu lintas di sejumlah ruas jalan di Medan. Benar atau tidak pendapat masyarakat di situs jejaring sosial itu, saya tidak mengomentari soal kunjungan Boediono itu dalam tulisan ini.Protes keras pun akhirnya dilakukan terhadap Kodam Bukit Barisan oleh semua kalangan jurnalis dari berbagai elemen, seperti Persatuan Jurnalis Indonesia (PWI) Sumut, Forum Jurnalis Medan (FJM), Forum Jurnalis Perempuan Indonesia (FJPI), dan Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Sumut.

Para jurnalis menuntut sekaligus mendesak agar Pangdam Bukit Barisan Mayor Jenderal TNI Lodewijk Freidrich Paulus segera meminta maaf secara terbuka kepada para jurnalis yang menjadi korban pemukulan para anggotanya.Asisten Operasi Kodam I BB, Kolonel (Kav) Yotanabey berupaya meyakinkan para jurnalis bahwa tindakan pemukulan terhadap empat jurnalis TV itu bukanlah disengaja. Tapi pernyataan Yotanabey yang kontra produktif itu dibantah habis oleh salah satu korban pemukulan yang juga merupakan satu-satunya perempuan, Tuti Alawiyah Boru Lubis, jurnalis SCTV.

Di hadapan Yotanabey, Tuti pun merasa berhak mengatakan bahwa dirinya dipukul secara sengaja oleh prajurit Kodam I BB yang berseragam lengkap. Yang barangkali tak habis dipikirkan Tuti adalah mengapa tentara laki-laki tega memukulnya hingga bibirnya jontor dan tidak pernah mempertimbangkan kalau Tuti adalah seorang perempuan yang semestinya dilindungi dan tidak malah dikasari?Bagi jurnalis perempuan seperti Tuti, jangankan untuk menang, untuk imbang atau seri beradu fisik melawan prajurit TNI adalah suatu yang sangat sulit. Karena para jurnalis memang tidak siap jika beradu fisik dengan TNI.

Tindakan sejumlah anggota TNI terhadap jurnalis ini semakin menguatkan stigma bahwa TNI (seperti halnya Polri) adalah salah satu instrumen negara yang sejak dulu dikenal sosok yang sangat menakutkan dan ditakuti rakyat. Dengan seragam dan senjatanya, TNI sangat powerful manakala berhadap head to head dengan rakyat dari elemen mana saja.Rakyat takut karena selain diback up oleh negara dan undang-undang, TNI memiliki ribuan pasukan terlatih yang loyal dan siap mati. Apalagi mereka memiliki kekuatan bersenjata yang mematikan yang dapat mereka gunakan kapan saja mereka mau.

(Akan) Terus Berulang

Tim Rusia yang diturunkan pada operasi lanjutan mereka menurunkan 10 personelnya dan diangkut menuju lokasi jatuhnya pesawat dengan menggunakan helikopter milik mereka. Untuk mendampingi Tim Rusia, pihaknya sudah menugaskan 10 personel TNI yang beranggotakan 5 personel Kopassus TNI AD dan 5 personel Paskhas AU."Kami akan mendampingi kegiatan mereka di lokasi jatuhnya pesawat untuk melakukan operasi lanjutan," tambahnya.Untuk melakukan operasi tersebut pihak tim SAR Rusia yang diketuai oleh Mikhael Chupalenkov sudah meminta izin kepada pihaknya untuk kembali melakukan operasi."Kami sudah memberikan izin dan rencananya besok mereka akan berangkan ke lokasi," kata Tabri.

Selain itu, personel TNI yang ditugaskan untuk mendampingi mereka akan diangkut dengan Helikopter Super Puma TNI AU, personel TNI nantinya bertugas mendampingi mereka di lokasi karena seperti diketahui, tim SAR Rusia tidak memahami lokasi jatuhnya pesawat sehingga perlu didampingi.(Ant/DNI)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Arsip Blog