Jumat, 12 November 2010

BRIGADE KHUSUS TNI GUNAKAN ALKAPSUS SISIR MERAPI

Kominfo Newsroom - Jakarta, 11/11/2010 (Kominfo-Newsroom) Brigade Khusus TNI Penanggulangan Bencana Merapi gunakan alat perlengkapan khusus (Alkapsus) dalam tugas penyisiran dan evakuasi korban Gunung Merapi. Alkapsus berupa kacamata dan masker khusus serta sepatu PDL sangat diperlukan untuk menghindari jatuhnya korban akibat kondisi alam yang masih sangat rawan, khususnya debu vulkanik dan endapan awan panas Merapi.

“Semua prajurit tanpa Alkapsus tidak diizinkan melaksanakan tugas. Jadi wajib menggunakan Alkapsus guna menghindari jatuhnya korban akibat kondisi alam yang masih rawan,” kata Dansatgas Brigade Khusus BP Merapi Brigjen TNI Syahiding, melalui rilis yang diterima Kominfo Newsroom, Kamis (11/11).

Menurut Syahiding, erupsi Gunung Merapi yang terjadi sejak 26 Oktober 2010 dan terus meningkat hingga menyebabkan kerusakan daerah di DIY, Magelang, Klaten, Boyolali dan sekitarnya, masih belum dapat diprediksi kelanjutannya. Gunung paling aktif di dunia tersebut masih mengeluarkan awan panas dan lava pijar.

Status Gunung Merapi masih tetap pada tingkat awas (level 4) dengan ancaman bahaya berupa awan panas dan lahar. Jumlah korban meninggal mencapai 194 orang, rawat inap 498 orang dan pengungsi mencapai 370.028 orang yang tersebar di beberapa titik pengungsian. Jumlah pengungsi selalu berubah disebabkan kegiatan para pengungsi yang tidak selalu berada di tempat pengungsian.

Menurutnya, jumlah korban kemungkinan masih bertambah mengingat proses evakuasi tetap dilakukan untuk memastikan bahwa tidak ada lagi warga yang hilang ataupun meninggal, tetapi belum diketemukan. “Untuk memastikan hal tersebut, TNI melaksanakan penyisiran dari rumah ke rumah untuk mencari dan mengevakuasi masyarakat hingga mendapat kepastian bahwa tidak ada lagi korban yang tertinggal. Namun demikian, kegiatan ini tidaklah mudah dan sangat berisiko mengingat daerah tertutup yang ditinggalkan pengungsi masih diselimuti debu vulkanik dan endapan awan panas,” ujarnya.

Sedangkan proses penyisiran juga tidak boleh terlalu lama. “Disesuaikan dengan kebiasaan aktivitas Gunung Merapi, biasanya pukul 06.00 sampai dengan 10.00 pagi, karena dikhawatirkan masih ada awan panas yang turun dari kawah merapi,” tuturnya. (yr/dry)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Arsip Blog