Sabtu, 20 Februari 2010

''Karier Saya Tidak Pernah Direncanakan''

Sri Parmini, Brigjen TNI AD yang baru dilantik sebagai staf ahli tingkat II kawasan Eropa dan Amerika Serikat staf ahli bidang hubungan internasional.

Jumat, 19/2/2010 10:16 WIB
KOMPAS.com — Senyum ramahnya segera mengembang saat Kompas Female memasuki ruang kerjanya di Mabes TNI Angkatan Darat di kawasan Cilangkap, Jakarta Timur, Kamis (18/2/2010). Tak sulit membuat janji dengan perempuan yang baru tiga hari sebelumnya dilantik menjadi brigadir jenderal (Brigjen) perwira staf ahli tingkat II kawasan Eropa dan Amerika Serikat staf ahli bidang hubungan internasional ini.

Pelantikan tersebut menjadikan Sri—begitu panggilannya—perempuan ketiga di TNI Angkatan Darat yang meraih pangkat perwira bintang satu atau brigadir jenderal. Sebelumnya, perempuan pertama dan kedua yang meraih pangkat brigjen di TNI AD adalah Herawati dan Kartini. Hal ini jelas membanggakan. Padahal, Sri mengawali kariernya di dunia militer tanpa sengaja. Perempuan kelahiran Boyolali, 54 tahun silam, itu bukan datang dari keluarga yang memiliki latar belakang militer. Bapaknya adalah seorang guru SD, sedangkan ibunya memilih menjadi ibu rumah tangga sekaligus berdagang hasil bumi.

''Memang waktu masih kecil cita-cita saya pernah ingin jadi tentara. Tetapi, kan, itu (cita-cita) anak kecil. Setelah dewasa saya tidak pernah berpikir berkarier di militer,'' ujarnya. Sri menghabiskan masa kecil hingga remaja di kota kelahirannya. Saat diterima kuliah di Jurusan Pendidikan Sosial Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Sebelas Maret, Solo, barulah ia tinggal berjauhan dari orangtuanya. Nah, dari sinilah perjalanan kariernya dimulai. Tanpa sengaja ia melihat pengumuman di Komando Distrik Militer (Kodim) Semarang mengenai penerimaan Kowad (Korps Wanita untuk Angkatan Darat) untuk kebutuhan wamil (wajib militer).

Sri, yang saat itu tengah menunggu diwisuda, nekat berangkat bersama teman kuliahnya ke Semarang. Namun, karena saat itu hari Sabtu, pendaftaran sudah ditutup. Beruntung, salah satu petugas pendaftaran di sana membantu Sri.''Saya masih ingat namanya, Peltu Koesnan. Ia yang membantu kami berdua,'' kenang ibu dua anak ini.

Jadilah Sri dan temannya mendaftarkan diri. Namun, mereka tidak langsung pulang karena rangkaian tes akan dimulai hari Senin. Pada hari pertama itu Sri harus menjalani tes olahraga. Hal itu membuatnya panik. ''Kami enggak punya kaus dan sepatu. Lha wong dadakan, kok. Akhirnya kami berembuk. Saya bertugas menyediakan kaus dan celana dua pasang, teman saya menyediakan sepatu dua pasang,'' tutur Sri, yang saat itu akhirnya menginap di rumah pamannya di Semarang.

Setelah menyelesaikan rangkaian tes, tinggallah Sri dan temannya berharap-harap cemas. Apalagi pengumuman penerimaan akan dikirim melalui pos ke Boyolali. Kedua perempuan ini dinyatakan lulus. Namun, mereka harus menjalani tes selanjutnya di Bandung, di antaranya tes psikologi dan mental ideologi. ''Saya lulus, teman saya tidak. Tapi, dia bersyukur tidak lulus karena waktu itu ia sedang skripsi,'' jelasnya. Sri lalu menjalani wajib militer dan dididik di Pusat Pendidikan Korps Wanita Angkatan Darat (Pusdikowad), Bandung.

Kariernya melesat
Setelah resmi diterima dan menjalani kariernya di TNI AD, pangkat Sri terus melesat. Dari letnan satu (1981), kapten (1987), mayor (1993), letnan kolonel (1996), kolonel (2001), dan terakhir brigjen (2010). Sambil bekerja, Sri masih sempat melanjutkan pendidikannya (S-2) hingga meraih gelar magister manajemen. Berkat kerja keras dan semangatnya untuk terus maju inilah Sri mendapatkan kepercayaan seperti sekarang.

Selama bertugas di TNI AD, Sri mendapat banyak pengalaman mendebarkan, sekaligus menyenangkan. Saat menjadi komandan pada 2002, Sri mengikuti latihan inti. Kegiatannya mulai menembak (menggunakan senjata M16), melempar granat, hingga ketangkasan (merayap di lumpur sambil ditembaki). ''Semuanya peluru dan granat asli, lho. Taruhannya nyawa meskipun itu hanya latihan,'' imbuhnya.

Kecelakaan juga pernah terjadi saat latihan. Hal itu terjadi ketika salah satu anggota yang dilatih lupa mengosongkan peluru. Salah satu pelatih pun terkena peluru nyasar di bagian lengan. ''Saya kaget dan langsung mendatangi Dewi, pelatih saat itu. Panik, sih, tapi tidak saya tunjukkan. Saya langsung minta dipanggilkan ambulans. Peluru itu lalu dikeluarkan dari lengannya,'' kenang wanita berkulit sawo matang ini. Pengalaman menyenangkan tentu saja berkaitan dengan pergaulan dengan sesama anggota. Maklum saja, saat di Seskowad sekitar tahun 1995-1996, Sri menjadi satu-satunya perempuan di antara 226 anggota.

"Kalau mengingat-ingat obrolan mereka, saya seperti sudah dianggap sebagai pria saja,'' seru perempuan humoris ini. Ia tidak merasa canggung memimpin di bidang yang didominasi kaum pria ini. ''Karena kami semua sudah terdidik dan sama-sama mengetahui tugas masing-masing. Kami tidak membedakan antara perempuan dan laki-laki. Kalau dia (bawahan) salah, maka ada cara untuk menegurnya dan memberikan solusi. Kalau perwira ditegur, bintara tidak boleh melihat. Kalau bintara salah, bisa ditegur melalui hierarki,'' jelas sulung dari 4 bersaudara ini.

Menurut Sri, seorang pemimpin harus bisa menjadi contoh. Kalau tidak siap jadi pemimpin, pasti ia tidak akan dipilih. Dalam karier ia punya moto. ''Kalau sudah memilih profesi ini, lakukan sebaik mungkin. Jangan banyak menuntut, jalani dengan disiplin dan berdoa,'' tandasnya. Dengan cara ini, ia tetap dihormati tanpa harus bersikap layaknya pria. Menurut dia, bertangan dingin itu boleh, tetapi harus dilakukan pada tempatnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Arsip Blog