Rabu, 18 Agustus 2010

Pecalang Garda Terdepan Amankan Bali

18 Agustus 2010 | BP

DANA abadi dari pembaca Bali Post untuk Pura Besakih, Senin (16/8) lalu diserahkan. Bantuan sebesar Rp 100 juta itu diserahkan Gubernur Bali Made Mangku Pastika yang diterima Bendesa Pakraman Besakih Wayan Gunatra. Selain penyerahan dana abadi, pada acara Simakrama Bali Post dengan pecalang se-Bali juga diserahkan bantuan telepon Flexi untuk pecalang, HT dan dana Rp 3 juta yang diterima Majelis Madya Desa Pakraman kabupaten/kota. Pada upacara itu juga diserahkan beasiswa untuk delapan mahasiswa kurang mampu yang merupakan kerja sama Bali Post dengan Universitas Warmadewa, Universitas Mahasaraswati dan IKIP PGRI Bali.

Dalam simakrama yang dirangkaikan dengan HUT ke-62 Bali Post, juga digelar dialog yang dipandu Pimpinan Kelompok Media Bali Post (KMB) Satria Naradha. Pada dialog itu terungkap pertanyaan tentang ''nasib'' 18 gugus pura yang ada di kawasan Besakih. Sebab, selama ini belum ada pendanaan yang jelas untuk perbaikan Pura-pura yang termasuk lingkup Catur Lawa Pura Besakih. Pertanyaan yang disampaikan Bendesa Pakraman Besakih Wayan Giantra itu, memohon kepada Gubernur untuk memberi atensi, karena selama ini belum ada sumber dana yang jelas untuk perbaikan fisik 18 gugus pura tersebut.

Menjawab keluhan itu, Gubernur menyatakan perlu dibentuk badan otorita Pura Besakih. Pembentukannya harus melibatkan semua pihak terkait, terutama unsur pimpinan pemerintahan di Kabupaten Karangasem. ''Keberadaan 18 gugus Pura di Besakih, memang harus mendapat pemikiran bersama. Terutama dalam hal pemeliharaannya,'' tandas Gubernur pada dialog yang digelar di Wantilan Sri Kesari Warmadewa, Besakih.

Garda Terdepan
Gubernur dalam sambutannya mengatakan, Bali sebagai destinasi yang terkenal akan terus didatangi baik oleh wisatawan maupun pencari kerja. Hal ini menyebabkan jumlah penduduk Bali sudah mencapai 3,9 juta. Tahun 2011 dipastikan bertambah hingga 4 juta. Sementara idealnya, daya dukung Bali hanya 1,5 juta.

Ini jelas berimbas munculnya masalah, salah satunya keamanan. Pecalang sebagai garda terdepan dalam menjaga keamanan wilayah desa pakraman, tentu sangat diharapkan perannya bersama-sama dengan aparat keamanan dan masyarakat, sehingga Bali tetap ajeg dan mataksu.

Gubernur mengakui pertemuan pecalang se-Bali merupakan langkah strategis dan sentral, guna mencari jalan terbaik menjaga keamanan dalam bingkai NKRI. Terlebih simakarama Bali Post dengan pecalang dilakukan bertepatan dengan peringatan HUT ke-65 Proklamasi Kemerdekaan RI. Sebab ke depan, ancaman bukan semakin ringan. Terbukti dari makin maraknya pergerakan untuk memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa, memecah belah umat beragama dan sektarian.

Ia juga menegaskan, diperlukan payung hukum keberadaan pecalang untuk acuan melaksanakan tugas dan kewajiban. Karena belakangan ada kecenderungan peralihan pemahaman tentang pecalang itu sendiri. Dari awalnya dengan konsep ngayah menjadi profesi.
Hadir dalam acara itu Kasdam Brigjen TNI Hendar Priyanto mewakili Pangdam IX/Udayana, Kasrem, Kapolda Bali diwakili Kapolres Karangasem AKBP Heny Harsono dan Muspida Karangasem.

Pimpinan KMB Satria Naradha menyatakan, digelarnya simakrama di Besakih, karena ingin mengawali semuanya dari Besakih dengan harapan cita-cita Proklamasi Kemerdekaan RI di antaranya nilai kesatuan bangsa tetap terpelihara. Ia juga mengajak tokoh desa dan pecalang untuk tetap memperhatikan masalah keamanan. Selain itu adat dan budaya juga harus dipelihara agar Bali tetap ajeg. ''Sesuai dengan perkembangan yang ada, adat memang perlu direvitalisasi. Untuk itu kami siap memediasi dalam rangka mengambil langkah bersama Gubernur Bali dengan program Bali Mandara-nya, demi tetap ajegnya Bali,'' tegasnya.

Selain masalah adat dan budaya, pecalang juga perlu diberikan bekal untuk pertahanan diri yang tetap bernapaskan kearifan lokal Bali. Untuk tahap awal konsep pertahanan diri ini juga diawali dari pecalang di Besakih. Mereka akan diberikan pelatihan olahraga sekaligus olahrasa yang diberi nama Sapta Sejati. Hal ini juga akan dilakukan untuk pecalang-pecalang di kabupaten/kota di Bali.

Kapolres Heny Harsono mengakui Bali tak bakal aman, kalau keamanan itu hanya diserahkan kepada polisi yang jumlahnya terbatas. Penjagaan keamanan dan kenyamanan, perlu sinergi dari semua pihak termasuk pecalang.

Sementara itu, Pangdam dalam sambutannya menegaskan, teroris menjadi ancaman keamanan global, termasuk Indonesia. Dalam menjaga keamanan, sejarah menunjukkan bahwa penjagaan keamanan dengan sistem rakyat semesta terbukti paling ampuh melawan tiap gangguan terhadap negara dan masyarakat. (bal/bud)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Arsip Blog