Selasa, 02 November 2010

Intel Kodim Dibunuh

Selasa, 02 November 2010 , 03:48:00

LAMPUNG - Anggota Intel Kodim 0411 Lampung Tengah Sersan Kepala (Serka) Nepio Mardiyanto (47) ditemukan tewas pukul 06.30 Wib, Senin (1/11). Korban diduga menjadi korban pembunuhan. Mayat korban ditemukan di Desa Giriklopomulyo, Kecamatan Sekampung, Lampung Timur, tepatnya di tepi jalan raya yang berjarak 100 meter dari SMPN 4 Sekampung. Saat ditemukan, pada tubuh korban terlihat luka di bagian dahi, telinga, pelipis, dan jeratan di leher. Kapolres Lamtim AKBP Bambang Haryanto melalui Kapolsek Sekampung AKP Sardan Kemala menjelaskan, mayat korban kali pertama ditemukan Purwanto, warga setempat, saat sedang mencari makanan burung.

Ketika melihat ada sesosok tubuh manusia tergeletak di tepi jalan, Purwanto langsung melaporkannya ke pamong desa setempat. Mendapat laporan tersebut, pamong desa meneruskannya ke Mapolsek Sekampung. Berdasarkan laporan pamong, petugas mapolsek langsung meluncur ke tempat kejadian perkara (TKP). Saat melakukan olah TKP, petugas Polsek Sekampung tidak menemukan identitas korban. Petugas hanya mendapatkan sepasang sandal kulit, kacamata, jam tangan, uang tunai Rp1,2 juta, batu, dan kayu.

Identitasnya akhirnya diketahui saat mayatnya dibawa ke Puskesmas Sekampung. Saat itu, ada salah seorang anggota Koramil Sekampung yang mengenal korban yang diketahui tinggal di Desa Banjarrejo, Kecamatan Batanghari, Lamtim. Karenanya, petugas Polsek Sekampung kemudian menghubungi keluarga korban. Selanjutnya, mayat korban dibawa ke RSU Achmad Yani Kota Metro untuk divisum. Berdasarkan hasil visum, korban diperkirakan telah meninggal sejak 12 jam sebelum ditemukan.

Selain itu diketahui terdapat luka memar di mata kanan, luka robek di alis, telinga kanan hampir putus, dan tanda merah di bagian leher akibat jeratan. Jenazah bapak yang memiliki satu putra dan dua putri ini kemudian dikebumikan di Tempat Pemakaman Umum Desa Banjarrejo dengan upacara militer yang dipimpin Dandim 0411 Lamteng Letkol Rahmadi Saragih pukul 13.30 WIB. ’’Guna menyelidiki kasus tersebut, kami telah meminta keterangan Heri (32) yang diduga mengetahui identitas pelaku penganiayaan yang mengakibatkan korban tewas. Sebab sebelum ditemukan tewas, korban diketahui pergi bersama Heri dengan mobil minibus Isuzu Panther bernomor polisi B 7497 NM,” terang AKP Sardan.

Saat dimintai keterangan di Mapolsek Sekampung, Heri menceritakan Minggu (31/10) malam lalu dia memang pergi bersama korban dengan mengendarai minibus Isuzu Panhter menuju Kecamatan Sekampung. Kemudian, mereka memarkirkan kendaraannya di depan salah satu minimarket yang ada di tepi Jalan Raya Kecamatan Sekampung. Saat berhenti tersebut, tiba-tiba ada sebuah sepeda motor Honda Revo Absolute menabrak mobil korban dari arah belakang sekitar pukul 00.30 WIB. Mengetahui mobilnya ditabrak, korban langsung turun dan mengajak pengemudi sepeda motor untuk menyelesaikan peristiwa tersebut ke Mapolsek Sekampung. Namun, si pengemudi sepeda motor menolak dan mengajak korban ke rumahnya untuk berdamai.

Permintaan tesebut dituruti korban, sementara Heri diminta menunggu di dalam mobil. Namun hingga pukul 03.30 WIB, korban tidak kembali sehingga Heri memutuskan untuk pulang ke Batanghari dengan membawa mobil korban. ’’Saat ini kami berusaha mencari pengemudi sepeda motor Honda Revo tersebut. Sebab, dia yang terakhir bersama korban,” papar AKP Sardan. Sementara di rumah duka, hingga kemarin istri serta putra dan putri korban masih belum bersedia memberikan keterangan kepada para wartawan. ’’Harap maklum Mas, mereka masih shock,” ujar Ruli (34), adik ipar korban.

Oknum TNI-Mahasiswa Baku Hantam
Sementara karena masalah sepele, diduga oknum TNI Serda Su (25) terlibat baku hantam dengan mahasiswa Unila, Fauzan Arif (21), pukul 13.00 WIB kemarin di pelataran Balai Bahasa Universitas Lampung. Baku hantam itu tak hanya mengakibatkan Fauzan babak belur. Seorang mahasiswa fakultas pertanian yang belum diketahui namanya juga babak belur akibat dikeroyok 10 rekan Su.

Anggota Satpam Unila Suraya menuturkan, peristiwa bermula saat Fauzan sedang kursus bahasa Inggris di Balai Bahasa. Di kelas itu ada seorang mahasiswi, Puteri (21), yang juga ikut kursus. Ketika itu, Fauzan membuat kegaduhan. Ini membuat Puteri menegurnya. Namun, teguran itu dirasakan kasar oleh Fauzan. Tak terima teguran itu, Fauzan menantang pacar Puteri untuk berkelahi. Rupanya, tantangan tersebut diterima Puteri. Dia menelepon pacarnya, Su.

Dengan masih berseragam TNI, Su menunggu di depan pelataran parkir Balai Bahasa. Kemudian terjadilah adu mulut dan perkelahian antara Fauzan dengan Su. Akibatnya, Fauzan menderita luka di hidung, kening, pipi, dan cakaran di dada. Sedangkan Su menderita luka di paha kanannya.

’’Untungnya perkelahian bisa dipisahkan dan keduanya kami bawa ke pos satpam. Dengan penjelasan yang panjang, keduanya akhirnya berdamai dan menandatangani surat perjanjian untuk tidak mengulanginya lagi,” terang Suraya. Meski sudah berdamai, rupanya kabar perkelahian itu menarik perhatian mahasiswa yang kebetulan lewat di pos satpam. Mahasiswa pun mengerumuninya. Karena merasa terpojok, rupanya Su menelepon rekan-rekannya untuk datang ke Unila.

Tak lama, rekan Su yang berjumlah sekitar 10 orang dengan lima sepeda motor datang. Mereka pun mengusir mahasiswa dengan kasar. Seorang mahasiswa yang tidak tahu-menahu dengan permasalahan tersebut terkena imbasnya. Dia dikeroyok rekan-rekan Su. Setelah itu, mereka pergi bersama Su. Oleh satpam, kasus ini pun dilimpahkan ke Pembantu Rektor (PR) III Unila Prof. Dr. Sunarto, M.S. Sunarto sangat menyayangkan kejadian tersebut bisa terjadi di Unila. ’’TNI kan seharusnya menjadi pelindung mahasiswa. Ini malah melakukan kebrutalan di sebuah institusi,” ujarnya.

Kemarin pukul 18.00 WIB, pihak rektorat yang diwakili PR III melakukan pertemuan dengan korem. Kedua belah pihak pun menyatakan damai dan akan meredam masing-masing anggotanya. ’’Pihak Unila akan meredam mahasiswa yang konflik. Dan, korem akan meredam anggotanya,” ujra Humas Unila Sholeh Anom.

Sementara Kepala Penerangan Korem (Kapenrem) Mayor Subagya saat dikonfirmasi sekitar pukul 20.00 WIB, meski ponselnya aktif, dia tidak mengangkatnya. (wid/ysn/c1/adi)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Arsip Blog